CAKRAREPUBLIK.com.DUMAI – Permainan tradisional masyarakat Dumai justru budaya Melayu tidak akan pernah menyerah di zaman. Hal itu terlihat dalam Festival Layang-layang Kua Raja Tebuk 2026 yang menyedot perhatian ratusan warga di Pantai Wisata Purnama, Kecamatan Dumai Barat, selama dua hari, 25–26 Juli 2026.
Pantai Purnama dipenuhi puluhan layang-layang tradisional hasil karya 62 peserta dari Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, dan Pakning. Mereka tidak hanya beradu keterampilan membelah angin, tetapi juga menunjukkan komitmen menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Festival ini menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Kua Raja Tebuk Isi menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap lunturnya budaya lokal sekaligus penegasan bahwa tradisi Melayu tetap memiliki tempat terhormat di tengah perkembangan zaman.
Pelestarian budaya tersebut diperkuat dengan landasan hukum melalui Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.
Kegiatan ini dihadiri Wali Kota Dumai, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Ketua LAMR Kota Dumai, Danramil 01/Dumai, Kapolsek Dumai Barat, para camat, jajaran OPD, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Dumai, lurah, Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala sekolah, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ribuan warga yang memadati lokasi festival.
Ketua panitia menegaskan, Festival Layang-layang Kua Raja Tebuk Isi bukan hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga memperkuat persatuan masyarakat, mendorong sektor pariwisata, dan menggerakkan ekonomi pelaku UMKM di kawasan Pantai Purnama.
Di penghujung acara, penghargaan diserahkan kepada para juara sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Festival Layang-layang Kua Raja Tebuk Isi 2026 menjadi bukti bahwa budaya Melayu bukan sekadar peninggalan sejarah. Budaya adalah identitas, dan jati diri masyarakat Dumai yang akan terus berkibar setinggi layang-layang di langit negeri pesisir.
(LIINDA)













